Senin, 12 Januari 2015

Benteng Spellwijk Banten

Benteng Spellwijk dibangun oleh arsitek Belanda yang bernama Hendrick Lucasz Cardeel pada tahun 1684-1685. Benteng ini merupakan reruntuhan dari benteng Kesultanan Banten yang telah dihancurkan, yang kemudian dibangun kembali oleh Belanda.
Sekarang, benteng ini hanya tinggal reruntuhannya. Sisa-sisa bangunan yang masih tampak sebagian besar merupakan bagian-bagian pondasinya saja. Benteng ini dibangun dengan batu kali, batu karang, dan batu bata yang direkatkan menggunakan semen. Bagian bawah bangunan terbuat dari batu cadas atau karang, sedangkan bagian atasnya terbuat dari batu bata.
Di sekeliling benteng terdapat parit-parit sebagai celah pertahanan benteng di bagian luar, kini lebarnya sekitar 4 meter dengan kedalaman yang dangkal. Dahulu, parit pertahanan ini diperkirakan sangat lebar dan dalam, sehingga tidak sembarangan orang dapat mendekati benteng tersebut.
Di dalam lingkungan benteng, terdapat lorong-lorong gelap yang konon dahulu digunakan sebagai tempat tahanan, penyimpanan senjata, dan logistik. Pada bagian atas bangunan inilah meriam-meriam diletakkan sebagai pertahanan utama benteng. Moncong meriam diarahkan langsung ke arah laut (Teluk Banten).



Referensi:

Keraton Kaibon Banten

Keraton Kaibon dibangun pada tahun 1815. Keraton ini adalah istana tempat tinggal Ratu Aisyah, ibunda dari Sultan Syafiuddin. Ketika itu Sultan Syafiuddin masih sangat belia, sehingga pemerintahan dijalankan oleh ibundanya. Nama kaibon berasal dari kata keibuan. Di samping keraton ini ada sebuah pohon besar dan sebuah kanal.
Pada tahun 1832, keraton ini dihancurkan oleh Belanda bersama-sama dengan Keraton Surosowan karena Sultan Syafiuddin menolak permintaannya untuk meneruskan pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan, dan pelabuhan armada Belanda di Labuan.
Sekarang, keraton ini hanya tinggal reruntuhannya saja. Tetapi, masih banyak bagian bangunan yang masih berdiri tegak hingga sekarang. Ruangan yang diduga kamar Ratu Aisyah juga masih tersisa seperempat bagian. Bagian lantainya dibuat lebih menjorok ke bawah (tanah) untuk diisi air sebagai pendingin ruangan. Di atasnya dipasang papan yang berfungsi sebagai lantai. Lubang-lubang penyangga papan masih terlihat hingga sekarang.



Referensi:

Sabtu, 10 Januari 2015

Masjid Pecinan Tinggi Banten

Masjid Pecinan Tinggi adalah masjid yang pertama kali dibangun oleh Sultan Hasanuddin. Masjid ini dibangun di sebuah pemukiman Cina pada masa Kesultanan Banten. Sekarang, masjid ini hanya tinggal reruntuhannya saja dengan sisa pondasi bangunan induknya yang terbuat dari batu bata dan batu karang, dan dinding mihrabnya yang membujur arah timur barat.
Di halaman depan sebelah kiri (utara) masjid terdapat sisa bangunan menaranya yang berdenah bujur sangkar. Menara ini terbuat dari batu bata, dengan pondasi dan bagian bawahnya terbuat dari batu karang. Bagian atas menara ini sudah hancur, sehingga wujud secara keseluruhannya sudah tidak nampak lagi.
Tidak jauh dari menara tersebut terdapat sebuah makam Cina. Makam tersebut adalah satu-satunya makam yang terdapat di tempat ini. Di makam tersebut ada tulisan Cina yang masih jelas, yang menjelaskan bahwa yang dikuburkan di tempat itu adalah pasangan suami istri (Tio Mo Sheng + Chou Kong Chian) yang berasal dari desa Yin Shao, dan batu nissan tersebut didirikan pada tahun 1843.



Referensi:

Vihara Avalokitesvara Banten

Vihara Avalokitesvara dibangun oleh salah satu Raja Banten yang pernah memerintah pada tahun 1652 yaitu Syekh Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Ia mendirikan vihara ini karena ketika itu ia melihat banyak perantau dari Cina yang membutuhkan tempat ibadah. Nama vihara ini diambil dari nama seorang Buddha yakni Buddha Avalokitesvara.
Di dalam vihara ini terdapat 16 patung dewa. Patung tertua yang ada disana adalah patung Dewi Kwan Im yang sudah berusia 600 tahun. Patung tersebut dibawa langsung dari Cina. Patung Dewi Kuan Im adalah satu-satunya patung yang selamat dalam kebakaran hebat yang pernah menghanguskan vihara ini pada tahun 2009.
Selain itu, terdapat ukiran-ukiran dinding yang menceritakan peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883. Letusan tersebut mengakibatkan terjadinya tsunami dan air bah yang sangat deras yang menggelundung di luar vihara. Orang-orang yang berlindung di dalam vihara berdoa agar mereka diselamatkan dan mukjizat pun terjadi. Air bah dan lahar tidak masuk ke dalam bangunan vihara dan semua orang yang berlindung di dalamnya pun selamat.
Akibat peristiwa tersebut, masyarakat Buddha Banten percaya bahwa vihara ini membawa keselamatan. Banyak umat Buddha dari luar wilayah Banten yang rela datang ke vihara ini untuk beribadah. Selain itu, di dalam komplek vihara ini juga terdapat Sekolah Agama Buddha yang diperuntukkan bagi anak-anak usia sekolah.
Bagi masyarakat Banten, vihara ini tidak hanya sekedar menjadi bangunan bersejarah atau tempat ibadah saja, tetapi juga sebagai simbol bagaimana masyarakat zaman dahulu mampu mewariskan keharmonisan dalam menghadapi setiap perbedaan yang ada. Masyarakat Banten memang dikenal sebagai komunitas mayoritas muslim, tetapi keharmonisan beragama di Banten Lama ini terjalin sangat baik, bahkan penduduk yang tinggal di sekitar vihara ini sering ikut terlibat dan membantu ketika ada acara dan perayaan-perayaan di vihara ini, seperti perayaan ulang tahun Buddha misalnya.



Referensi:
 

Kamis, 08 Januari 2015

Kekagumanku Pada Sosok Habibie

Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal dengan BJ Habibie adalah mantan presiden Republik Indonesia setelah Soeharto. Beliau lahir pada tanggal 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Selatan. Beliau menikah dengan Hasri Ainun dan dikaruniai dua orang anak laki-laki, yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.
Kekaguman saya pada sosok Habibie muncul ketika saya menonton film “Habibie & Ainun” yang diambil dari buku terlaris karya beliau. Sebelumnya saya hanya sekadar mengetahui bahwa BJ Habibie adalah mantan presiden RI dan beliau pernah mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman mengambil jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi Pesawat Terbang.
BJ Habibie adalah orang yang sangat cerdas. Meskipun awalnya sering diremehkan oleh orang-orang Jerman karena beliau berasal dari Indonesia, tetapi beliau tidak peduli dengan apa yang orang-orang pikirkan tentang beliau. Dengan kecerdasannya, beliau mampu membuktikan bahwa beliau tidak seperti yang mereka pikirkan. Akhirnya, banyak orang Jerman yang ingin mempekerjakan beliau, tetapi beliau selalu memilih untuk kembali dan mengabdikan dirinya kepada Indonesia.
Beliau pernah berbicara kepada Soeharto yang ketika itu menjabat sebagai presiden RI, bahwa beliau membutuhkan uang 500 juta dolar untuk membuat pesawat N250 menjadi pesawat yang paling hebat agar Indonesia tidak perlu bergantung kepada negara manapun. Tetapi, presiden Soeharto malah memutuskan agar IPTN ditutup.
Sekarang, para karyawan IPTN bertebaran di berbagai negara. Mereka harus mengais rejeki di negeri orang, dan parahnya Indonesia yang membeli pesawat negara-negara tersebut. Padahal beliau ingin membuktikan bahwa Indonesia juga mampu membuat pesawat terbang, tidak kepada orang Indonesia saja yang selalu meremehkan bangsanya sendiri, tetapi juga kepada negara lain.
Selain itu, ketika menjabat sebagai presiden RI, beliau selalu memikirkan bangsa Indonesia, bahkan beliau hanya tidur dua jam setiap hari karena beliau terus menerus memikirkan bangsa Indonesia.

Rabu, 07 Januari 2015

Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1683) adalah pahlawan yang berasal dari provinsi Banten. Ia adalah putera Sultan Abdul Ma’ali Ahmad dan Ratu Martakusuma yang menjadi Sultan Banten pada periode 1640-1650. Ketika kecil, ia diberi gelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya meninggal, ia diangkat menjadi Sultan Muda dan diberi gelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Sedangkan nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa.
Perjuangannya dimulai ketika orang-orang Belanda hadir di Nusantara, termasuk di Banten untuk berdagang. Mereka menawarkan beras untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Namun dalam perdagangan tersebut, Belanda hendak memonopoli.
Hubungan antara Banten dan VOC yang semula baik berubah dengan naiknya Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah yang lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa menjadi raja Banten pada tahun 1651. Ia tidak menyukai Belanda karena dalam pandangannya, Belanda hanya merupakan penghalang perdagangan Banten. Oleh karena itu, ia berusaha menghalang-halangi perdagangan Belanda. Selain itu, orang-orang Banten juga diperintahkannya untuk melakukan serangan-serangan gerilya terhadap kedudukan Belanda di Batavia (Jakarta), baik melalui darat maupun laut.
Pada tahun 1656, dua kapal kompeni dirampas oleh Banten dan perkebunan tebu milik kongsi dagang itu dirusak. Sultan Ageng Tirtayasa tidak bersedia menemui utusan VOC sehingga orang-orang Belanda yang berada di Banten merasa tidak aman dan secara diam-diam mereka meninggalkan Banten. Setelah itu, VOC memblokir pelabuhan Banten sehingga merugikan perdagangan kerajaan Banten. Sehingga dengan terpaksa, Sultan Ageng Tirtayasa mendekati Belanda untuk mengadakan perundingan. Perundingan itu berlangsung sangat ketat karena Belanda tetap mempertahankan keinginan perdagangan monopoli di Maluku dan Malaka yang sulit diterima oleh Banten. Akhirnya disepakati bahwa Belanda tetap mengadakan perdagangan dengan Maluku dan membayar ganti rugi kepada Banten.
Di sisi lain, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil menjalin hubungan dagang dan kerjasama dengan pedagang-pedagang Eropa (bukan Belanda), pedagang-pedagang Inggris dan pedagang-pedagang Denmark.
Francois Caron, seorang utusan raja Prancis Louis XIV meminta izin untuk mendirikan loji di Banten. Kemudian Sultan Ageng Tirtayasa menanyakan tujuan kongsi dagang mereka, kemana tujuan kapal-kapal mereka, barang dagangan yang diinginkan, dan jumlah uang tunai yang mereka miliki. Setelah itu, pihak Prancis menjual barang dagangan mereka. Kemudian, Caron kembali mengunjungi Sultan Ageng Tirtayasa dan memberinya berbagai hadiah.
Hubungan baik antara Prancis dan Sultan Ageng Tirtayasa mulai mencemaskan pihak Belanda. Mereka khawatir jika kerjasama antara Prancis dan Sultan Ageng Tirtayasa akan di tujukan ke Batavia. Berkat taktik VOC, pada tahun 1676, Banten mulai goyah. Dengan politik adu domba, Sultan Haji, putera Sultan Ageng Tirtayasa, berhasil dipengaruhi sehingga memusuhi ayahnya. Akibatnya, terjadi perselisihan antara Sultan Haji dan Sultan Ageng Tirtayasa. Masyarakat pun terbagi menjadi dua, sebagian tetap setia kepada Sultan Ageng Tirtayasa, sedangkan yang lain berpihak ke Sultan Haji.
Pada tahun 1680, ketegangan dengan Belanda memuncak dengan berakhirnya perang Trunojoyo. Sultan Ageng Tirtayasa harus menghadapi Belanda dan putranya, Sultan Haji. Pada tanggal 27 Februari 1682, perang antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Belanda dan Sultan Haji pecah dan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa berhasil merebut istana Sultan Haji di Surosowan (Banten). Dengan bantuan Belanda, Sultan Haji berhasil mempertahankan diri dengan mengikuti semua syarat yang diajukan Belanda yaitu bahwa semua orang Eropa harus meninggalkan Banten. Pada bulan Agustus 1682, Sultan Haji menandatangani perjanjian yang mengakui kekuasaan Belanda.
Semakin lama, Sultan Ageng Tirtayasa dan kekuatannya semakin lemah, tetapi ia tidak mau menyerah kepada Belanda. Pengikut-pengikutnya yang masih setia melanjutkan perjuangan di daerah pedalaman.
Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap dan dipenjara di Batavia. Kemudian ia meninggal di dalam penjara tersebut dan dimakamkan di komplek pemakaman raja-raja Banten di sebelah utara Masjid Agung Banten.



Referensi: