- Filosofi Buah Belimbing
- Suku Baduy
- Rampak Bedug Banten
- Modernisasi di Bidang Pertanian dan Perubahan Sosial dalam Masyarakat
- Debus Banten
- Tujuh Presiden Ramalan Ronggowarsito
- Mengenal Ronggowarsito
- Cara Mendidik Anak untuk Meminta Maaf
- Filosofi Tanaman Padi
- Implikasi Aliran Progresivisme dalam Pendidikan (PGSD 3/C - 01)
- Aliran Progresivisme dalam Pendidikan (Ref PGSD 3/C - 01)
- Nasihat Untuk Pemuda Dari Serat Wedharaga
- Ajaran Hidup dari Ronggowarsito
- Serat Jaka Lodhang
- Keraton Surosowan Banten
- Meriam Ki Amuk Banten
- Masyarakat Baduy dan Alam
- Filosofi Semut
- Menara Masjid Agung Banten
- Mengenal Syafruddin Prawiranegara
- Potret Guru Progresif
- Cara Mendidik Anak Agar Sopan Santun
- Gelombang Peradaban Manusia Menurut Alvin Toffler
- Sultan Ageng Tirtayasa
- Kekagumanku Pada Sosok Habibie
- Vihara Avalokitesvara Banten
- Masjid Pecinan Tinggi Banten
- Keraton Kaibon Banten
- Benteng Spellwijk Banten
- Tasikardi Banten
- Masjid Kasunyatan Banten
Selasa, 06 Januari 2015
[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan
Gelombang Peradaban Manusia Menurut Alvin Toffler
Pada tahun 1980, Alvin
Toffler membagi sejarah peradaban dalam 3 periode waktu yang berbeda yang dia
sebut sebagai gelombang. Dalam pandangan Toffler, tiga gelombang peradaban
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Gelombang
Pertama
Gelombang
pertama berkaitan dengan revolusi pertanian. Suatu periode dalam sejarah
peradaban sekitar 8.000 tahun sebelum masehi sampai sekitar tahun 1700-an.
Sebelum revolusi pertanian, manusia hidup dalam kelompok kecil, sering berpindah-pindah,
kelompok ini mencari makan dengan berburu, mencari ikan dan mencari makanan
yang tersedia di alam. Dengan revolusi pertanian, tersedia teknologi dimana
orang dapat menetap disatu tempat, yakin akan terpenuhinya kebutuhan makanan
sehingga dapat menciptakan apa yang kita sebut sebagai peradaban. Teknologi
yang muncul selama periode ini termasuk alat pengungkit, alat penggerek, alat
derek dan alat penjepit yang dirancang untuk memperbesar/meningkatkan sumber daya
energi terbarukan yang berasal dari tenaga manusia, hewan, angin, matahari dan
air.
2. Gelombang
Kedua
Gelombang kedua
merujuk pada revolusi industri dan memakan waktu selama periode pembangunan
sejak 1700an hingga kini. Di Amerika Serikat, gelombang ini memuncak pada
pertengahan 1950an, tapi di banyak belahan dunia lain gelombang ini masih terus
berlangsung. Periode ini mengakhiri dominasi peradaban pertanian dan mengawali
industrialisasi masyarakat. Teknologi yang diperkenalkan pada gelombang ini
umumnya berdasarkan pada mesin elektromekanik yang digerakkan oleh bahan bakar
fosil yang tidak terbarukan, menyebabkan perubahan secara luas dalam
meningkatkan masyarakat. Contoh-contoh teknologi ini antara lain mesin uap,
kendaraan bermotor dan listrik. Keluarga menjadi lebih kecil, beralih pekerjaan
dari lahan-lahan pertanian ke pabrik-pabrik, dan pendidikan beralih dari
pendidikan di rumah menjadi pendidikan yang terorganisir di dalam kelas.
3. Gelombang
Ketiga
Gelombang ketiga
serupa dengan zaman pasca industri, suatu periode yang diawali pada pertengahan
atau akhir 1950an dan sekarang sedang dialami oleh negara-negara yang menguasai
teknologi tinggi seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat, dan
Jepang. Ketersediaan teknologi secara luas seperti komputer, telekomunikasi,
robot, dan bioteknik juga telah meninggalkan tanda-tanda pada karakteristik
sosial masyarakat. Perubahan mendasar dalam perilaku sosial sekarang dapat
dilihat seperti pada pendidikan pemuda serta keberagaman dalam bentuk keluarga.
Referensi:
http://ahlanelfaz.blogspot.com/2014/03/future-shock-alvin-toffler.html
Cara Mendidik Anak Agar Sopan Santun
Di zaman sekarang ini,
sikap sopan santun merupakan sesuatu yang sangat mahal karena semakin lama
semakin berkurang, terutama pada anak-anak. Untuk menanamkan sikap sopan santun
tersebut, pendidikan dalam keluarga sangat berpengaruh karena lingkungan
keluarga adalah tempat pertama kalinya bagi anak mendapat pendidikan.
Mengajarkan sopan
santun pada anak harus dimulai sejak dini. Pendidikan yang efektif adalah
dengan memberi contoh dan menjadi tauladan bagi anak. Orang tua harus
menunjukkan sikap sopan santun dihadapan anaknya, sehingga anak akan meniru
sikap tersebut. Karena apabila dijelaskan dengan kata-kata, anak-anak tidak
akan mengerti.
Jika meminta bantuan
kepada anak, biasakan dengan menggunakan kata “tolong”, misalnya “Nak, tolong
ambilkan Ayah koran”. Dan jika anak telah melakukan sesuatu yang diperintahkan,
ucapkan “terima kasih” kepada anak. Selain itu, jika orang tua melakukan
kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja, gunakanlah kata “maaf”. Sehingga
anak-anak akan terbiasa mendengar kata-kata tersebut dan kemudian menerapkannya
dalam kehidupan sehari.
Anak-anak masih sering
lupa dan tidak cukup diajarkan hanya sekali. Untuk mengingatkan mereka bahwa
mereka harus bersikap sopan santun, tidak perlu dengan marah tetapi gunakan
kata-kata yang lembut, misalnya “Wah anak Ayah lupa ya kalau dapat hadiah harus
bilang apa?”. Jika ia bersikap sopan santun, jangan lupa untuk memberinya
pujian sebagai hadiah, misalnya “Wah pintar ya anak Ayah”.
Mengajarkan sopan
santun kepada anak harus dilakukan dengan penuh kesabaran. Selain itu harus
disertai dengan doa, karena semua usaha yang telah dilakukan hasilnya
ditentukan oleh Allah.
Kamis, 01 Januari 2015
Potret Guru Progresif
Pak Husen mengajar IPS
di suatu sekolah menengah. Ia tampaknya bergaul baik dengan para siswa. Ia suka
memberi siswa kebebasan memilih sebanyak mungkin di kelas. Karena itulah,
ruangannya dibagi-bagi menjadi pusat-pusat minat dan aktivitas, dan para siswa
bebas memilih dimana mereka ingin menghabiskan waktu mereka.
Pak Husen bermaksud
membangun hubungan-hubungan yang hangat dan sportif dengan para siswa. Ia
bangga terhadap fakta bahwa ia adalah teman para siswa. Pengunjung kelas Pak
Husen saat ini dapat merasakan penerimaannya yang jelas bagi siswa. Ia secara
sungguh-sungguh peduli mengenai pertumbuhan dan pendidikan masing-masing siswa.
Ketika para siswa menghabiskan sebagian besar dari waktu mereka bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil pada beragam aktivitas yang terpusat pada ruangan
tersebut, Pak Husen membagi waktunya diantara kelompok-kelompok itu
Sebanyak mungkin ia
membawa pengetahuan buku teks pada kehidupan dengan memberi para siswa
pengalaman-pengalaman yang tepat, seperti: kunjungan lapangan, proyek kelompok
kecil, aktivitas simulasi, bermain peran, eksplorasi internet, dan sebagainya.
Pak Husen percaya bahwa fungsi pokoknya sebagai seorang guru adalah
mempersiapkan para siswanya untuk masa depan yang tidak dikenal. Ia merasa
bahwa belajar memecahkan permasalahan pada usia dini adalah persiapan yang
terbaik untuk masa depan ini.
Referensi:
Sadulloh, Uyoh. 2007. Filsafat Pendidikan. Bandung : Cipta Utama
Mengenal Syafruddin Prawiranegara
Syafruddin Prawiranegara adalah pejuang pada masa
kemerdekaan Republik Indonesia. Ia lahir di Serang, Banten, pada tanggal 28
Februari 1911 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 15 Februari 1989.
Syafruddin pernah menjabat
sebagai Ketua PDRI
(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia
di Yogyakarta
jatuh ke tangan Belanda
saat Agresi Militer Belanda II
pada tanggal 19 Desember 1948.
Saat itu, Syafruddin ditugaskan oleh Soekarno dan Hatta untuk membentuk PDRI
karena Presiden Soekarno
dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap dan diasingkan
oleh Belanda ke Pulau Bangka.
Atas usaha Pemerintah
Darurat Republik Indonesia, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia.
Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda, dan akhirnya Soekarno dan
kawan-kawan dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta.
Pada tanggal 13 Juli
1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad
Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet. Serah terima pengembalian mandat
dari PDRI secara resmi terjadi pada tanggal 14 Juli 1949 di Jakarta.
Dari keterangan yang
telah diuraikan di atas, dapat diketahui bahwa Syafruddin Prawiranegara adalah orang yang menggantikan
Presiden Soekarno dengan membentuk PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia)
ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap dan diasingkan
oleh Belanda ke pulau Bangka. Dengan kata lain, Syafruddin Prawiranegara pernah
menjabat sebagai presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tetapi, sampai saat ini masyarakat Indonesia banyak yang
hanya mengenal Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid atau Gusdur,
Megawati Soekarno Putri, dan Susilo Bambang Yudhoyono, serta presiden terpilih
2014 Joko Widodo sebagai presiden di Indonesia. Mereka tidak mengenal Syafruddin
Prawiranegara, karena ia tidak pernah dimasukkan ke dalam daftar nama presiden
yang pernah memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain itu, di sekolah-sekolah pun banyak anak yang tidak
mengetahui bahwa Syafruddin Prawiranegara pernah menjabat sebagai presiden
Indonesia. Karena yang mereka dapatkan dari sekolah hanya Soekarno, Soeharto,
BJ Habibie, Abdurrahman Wahid atau Gusdur, Megawati Soekarno Putri, dan Susilo
Bambang Yudhoyono yang pernah menjabat sebagai presiden di Indonesia. Sehingga
mereka tidak mengenal Syafruddin Prawiranegara sebagai orang yang pernah memimpin
negara ini.
Referensi:
Langganan:
Postingan (Atom)
