Selasa, 06 Januari 2015

[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan


  1. Filosofi Buah Belimbing
  2. Suku Baduy
  3. Rampak Bedug Banten
  4. Modernisasi di Bidang Pertanian dan Perubahan Sosial dalam Masyarakat
  5. Debus Banten
  6. Tujuh Presiden Ramalan Ronggowarsito
  7. Mengenal Ronggowarsito
  8. Cara Mendidik Anak untuk Meminta Maaf
  9. Filosofi Tanaman Padi
  10. Implikasi Aliran Progresivisme dalam Pendidikan (PGSD 3/C - 01)
  11. Aliran Progresivisme dalam Pendidikan (Ref PGSD 3/C - 01)
  12. Nasihat Untuk Pemuda Dari Serat Wedharaga
  13. Ajaran Hidup dari Ronggowarsito
  14. Serat Jaka Lodhang
  15. Keraton Surosowan Banten
  16. Meriam Ki Amuk Banten
  17. Masyarakat Baduy dan Alam
  18. Filosofi Semut
  19. Menara Masjid Agung Banten
  20. Mengenal Syafruddin Prawiranegara
  21. Potret Guru Progresif
  22. Cara Mendidik Anak Agar Sopan Santun
  23. Gelombang Peradaban Manusia Menurut Alvin Toffler
  24. Sultan Ageng Tirtayasa
  25. Kekagumanku Pada Sosok Habibie
  26. Vihara Avalokitesvara Banten 
  27. Masjid Pecinan Tinggi Banten 
  28. Keraton Kaibon Banten 
  29. Benteng Spellwijk Banten
  30. Tasikardi Banten 
  31. Masjid Kasunyatan Banten 

Gelombang Peradaban Manusia Menurut Alvin Toffler

Pada tahun 1980, Alvin Toffler membagi sejarah peradaban dalam 3 periode waktu yang berbeda yang dia sebut sebagai gelombang. Dalam pandangan Toffler, tiga gelombang peradaban tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Gelombang Pertama
Gelombang pertama berkaitan dengan revolusi pertanian. Suatu periode dalam sejarah peradaban sekitar 8.000 tahun sebelum masehi sampai sekitar tahun 1700-an. Sebelum revolusi pertanian, manusia hidup dalam kelompok kecil, sering berpindah-pindah, kelompok ini mencari makan dengan berburu, mencari ikan dan mencari makanan yang tersedia di alam. Dengan revolusi pertanian, tersedia teknologi dimana orang dapat menetap disatu tempat, yakin akan terpenuhinya kebutuhan makanan sehingga dapat menciptakan apa yang kita sebut sebagai peradaban. Teknologi yang muncul selama periode ini termasuk alat pengungkit, alat penggerek, alat derek dan alat penjepit yang dirancang untuk memperbesar/meningkatkan sumber daya energi terbarukan yang berasal dari tenaga manusia, hewan, angin, matahari dan air.
2.      Gelombang Kedua
Gelombang kedua merujuk pada revolusi industri dan memakan waktu selama periode pembangunan sejak 1700an hingga kini. Di Amerika Serikat, gelombang ini memuncak pada pertengahan 1950an, tapi di banyak belahan dunia lain gelombang ini masih terus berlangsung. Periode ini mengakhiri dominasi peradaban pertanian dan mengawali industrialisasi masyarakat. Teknologi yang diperkenalkan pada gelombang ini umumnya berdasarkan pada mesin elektromekanik yang digerakkan oleh bahan bakar fosil yang tidak terbarukan, menyebabkan perubahan secara luas dalam meningkatkan masyarakat. Contoh-contoh teknologi ini antara lain mesin uap, kendaraan bermotor dan listrik. Keluarga menjadi lebih kecil, beralih pekerjaan dari lahan-lahan pertanian ke pabrik-pabrik, dan pendidikan beralih dari pendidikan di rumah menjadi pendidikan yang terorganisir di dalam kelas.
3.      Gelombang Ketiga
Gelombang ketiga serupa dengan zaman pasca industri, suatu periode yang diawali pada pertengahan atau akhir 1950an dan sekarang sedang dialami oleh negara-negara yang menguasai teknologi tinggi seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat, dan Jepang. Ketersediaan teknologi secara luas seperti komputer, telekomunikasi, robot, dan bioteknik juga telah meninggalkan tanda-tanda pada karakteristik sosial masyarakat. Perubahan mendasar dalam perilaku sosial sekarang dapat dilihat seperti pada pendidikan pemuda serta keberagaman dalam bentuk keluarga.



Referensi:
http://ahlanelfaz.blogspot.com/2014/03/future-shock-alvin-toffler.html

Cara Mendidik Anak Agar Sopan Santun

Di zaman sekarang ini, sikap sopan santun merupakan sesuatu yang sangat mahal karena semakin lama semakin berkurang, terutama pada anak-anak. Untuk menanamkan sikap sopan santun tersebut, pendidikan dalam keluarga sangat berpengaruh karena lingkungan keluarga adalah tempat pertama kalinya bagi anak mendapat pendidikan.
Mengajarkan sopan santun pada anak harus dimulai sejak dini. Pendidikan yang efektif adalah dengan memberi contoh dan menjadi tauladan bagi anak. Orang tua harus menunjukkan sikap sopan santun dihadapan anaknya, sehingga anak akan meniru sikap tersebut. Karena apabila dijelaskan dengan kata-kata, anak-anak tidak akan mengerti.
Jika meminta bantuan kepada anak, biasakan dengan menggunakan kata “tolong”, misalnya “Nak, tolong ambilkan Ayah koran”. Dan jika anak telah melakukan sesuatu yang diperintahkan, ucapkan “terima kasih” kepada anak. Selain itu, jika orang tua melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja, gunakanlah kata “maaf”. Sehingga anak-anak akan terbiasa mendengar kata-kata tersebut dan kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari.
Anak-anak masih sering lupa dan tidak cukup diajarkan hanya sekali. Untuk mengingatkan mereka bahwa mereka harus bersikap sopan santun, tidak perlu dengan marah tetapi gunakan kata-kata yang lembut, misalnya “Wah anak Ayah lupa ya kalau dapat hadiah harus bilang apa?”. Jika ia bersikap sopan santun, jangan lupa untuk memberinya pujian sebagai hadiah, misalnya “Wah pintar ya anak Ayah”.
Mengajarkan sopan santun kepada anak harus dilakukan dengan penuh kesabaran. Selain itu harus disertai dengan doa, karena semua usaha yang telah dilakukan hasilnya ditentukan oleh Allah.

Kamis, 01 Januari 2015

Potret Guru Progresif

Pak Husen mengajar IPS di suatu sekolah menengah. Ia tampaknya bergaul baik dengan para siswa. Ia suka memberi siswa kebebasan memilih sebanyak mungkin di kelas. Karena itulah, ruangannya dibagi-bagi menjadi pusat-pusat minat dan aktivitas, dan para siswa bebas memilih dimana mereka ingin menghabiskan waktu mereka.
Pak Husen bermaksud membangun hubungan-hubungan yang hangat dan sportif dengan para siswa. Ia bangga terhadap fakta bahwa ia adalah teman para siswa. Pengunjung kelas Pak Husen saat ini dapat merasakan penerimaannya yang jelas bagi siswa. Ia secara sungguh-sungguh peduli mengenai pertumbuhan dan pendidikan masing-masing siswa. Ketika para siswa menghabiskan sebagian besar dari waktu mereka bekerja dalam kelompok-kelompok kecil pada beragam aktivitas yang terpusat pada ruangan tersebut, Pak Husen membagi waktunya diantara kelompok-kelompok itu
Sebanyak mungkin ia membawa pengetahuan buku teks pada kehidupan dengan memberi para siswa pengalaman-pengalaman yang tepat, seperti: kunjungan lapangan, proyek kelompok kecil, aktivitas simulasi, bermain peran, eksplorasi internet, dan sebagainya. Pak Husen percaya bahwa fungsi pokoknya sebagai seorang guru adalah mempersiapkan para siswanya untuk masa depan yang tidak dikenal. Ia merasa bahwa belajar memecahkan permasalahan pada usia dini adalah persiapan yang terbaik untuk masa depan ini.



Referensi:
Sadulloh, Uyoh. 2007. Filsafat Pendidikan. Bandung : Cipta Utama

Mengenal Syafruddin Prawiranegara

Syafruddin Prawiranegara adalah pejuang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia. Ia lahir di Serang, Banten, pada tanggal 28 Februari 1911 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 15 Februari 1989.
Syafruddin pernah menjabat sebagai Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948. Saat itu, Syafruddin ditugaskan oleh Soekarno dan Hatta untuk membentuk PDRI karena Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap dan diasingkan oleh Belanda ke Pulau Bangka.
Atas usaha Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda, dan akhirnya Soekarno dan kawan-kawan dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta.
Pada tanggal 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI secara resmi terjadi pada tanggal 14 Juli 1949 di Jakarta.
Dari keterangan yang telah diuraikan di atas, dapat diketahui bahwa Syafruddin Prawiranegara adalah orang yang menggantikan Presiden Soekarno dengan membentuk PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap dan diasingkan oleh Belanda ke pulau Bangka. Dengan kata lain, Syafruddin Prawiranegara pernah menjabat sebagai presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tetapi, sampai saat ini masyarakat Indonesia banyak yang hanya mengenal Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid atau Gusdur, Megawati Soekarno Putri, dan Susilo Bambang Yudhoyono, serta presiden terpilih 2014 Joko Widodo sebagai presiden di Indonesia. Mereka tidak mengenal Syafruddin Prawiranegara, karena ia tidak pernah dimasukkan ke dalam daftar nama presiden yang pernah memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain itu, di sekolah-sekolah pun banyak anak yang tidak mengetahui bahwa Syafruddin Prawiranegara pernah menjabat sebagai presiden Indonesia. Karena yang mereka dapatkan dari sekolah hanya Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid atau Gusdur, Megawati Soekarno Putri, dan Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah menjabat sebagai presiden di Indonesia. Sehingga mereka tidak mengenal Syafruddin Prawiranegara sebagai orang yang pernah memimpin negara ini.


 
Referensi: